Kincir angin tentu bukan sesuatu yang asing bagi Anda. Kincir angin
merupakan suatu benda yang menjadi ciri khas sebuah negara di Eropa yaitu
Belanda. Di setiap rumah di Belanda selalu terdapat benda ini, tentu saja bukan
hanya sekedar untuk penghias tapi lebih kepada fungsi utamanya. Apakah
hanya Belanda yang memiliki kincir ? Apakah fungsi utama dari kincir? Apakah
Anda mengetahui sejarah tentang kincir?
Sejarah kincir angin ternyata bermula pada abad ke tujuh masehi. Namun tidak
banyak orang yang mengetahui hal ini. Orang awam hanya tahu bahwa kincir
berasal dari Belanda dan tidak tahu kapan ditemukannya benda ini. Oleh
karena itu berikut ini akan dioaparkan mengenai jenis-jenis kincir, yaitu
Kincir Angin Horizontal
Kincir pertama ternyata bukan ditemukan di Eropa, akan tetapi di
Persia pada abad ke tujuh masehi. Kita bisa melacak tulisan
tentang benda ini di kitab yang ditulis oleh Banu Musa
bersaudara. Cara kerja kincir ini relatif sederhana akan tetapi
telah dipergunakan secara luas pada masa itu.
Kincir Angin Verrtikal
Kincir jenis ini tersebar dari Iran dan Afganistan kemudian
tersebar ke Timur Tengah dan Asia Tengah, kemudian menyebar
ke China dan India. Dan pada saat perang salib membawanya ke
Eropa. Kincir ini pun kemudian menjamur di Eropa, terutama
Belanda.
Fungsi kincir di wilayah Eropa pada umumnya digunakan untuk membelah
kayu, menggerus batu kapur, hingga menggiling jagung, selain tentunya
mengangkut air. Sayangnya, akibat revolusi industri, keberadaan kincir
terancam. Terbukti bahwa pada saat ini keberadaan kincir di Belanda hanya
tersisa sekitar 1.040 unit kincir dan itupun sebagian besar hanya berfungsi
sebagai museum.
Pemerintah Belanda kemudian secara terus-menerus melakukan berbagai
upaya restorasi. Pada Tahun 2007 lalu mereka mengucurkan dana senilai 60
juta euro untuk membuat dan memperbaiki sekitar 120 kincir. Hal ini ditujukan
agar kelestarian benda ini yang sudah menjadi ciri khas dan bahkan simbole
negara tetap lestari.
Kincir Angin di Belanda.
Banyaknya kincir di Belanda tak lepas dari kondisi geografis negara tersebut.
Belanda terletak antara 500 LU-530 LU dan 30 BT-70 BT. Dari luas wilayah
41.160 KM2, Kebanyakan wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Fungsi kincir salah satunya adalah mengeringkan wilayah di bawah permukaan
laut tersebut. Tanggul (Dam) dibangun, kemudian air dipompa keluar
menggunakan kincir karena itulah banyak daerah di Belanda menggunakan
kata “Dam” (Rotterdam, Amsterdam,dll).
Di Belanda, kincir dibagi menjadi dua jenis yaitu kincir untuk kepentingan
industri dan kincir untuk penyaluran air. Banyak jenis kincir untuk kepentingan
industri dan mereka diberi nama sesuai dengan kegunaannya, contohnya kincir
untuk menggiling jagung (cornmill) atau kincir untuk menggergaji (sawmill).
Hingga beberapa abad lalu di Belanda ada sekitar 10.000 kincir sekarang
tinggal 1000 kincir dan berfungsi sebagai obyek wisata. Ada dua tempat obyek
wisata kincir yang terpopuler di Belanda yaitu Zaanse Schans di Provinsi
Belanda Utara (Province North Holland) dan Kinderdijk di Provinsi Belanda
Selatan (Province South Holland).
Kincir yang berada di Zaanse Schans ini membantu proses pengalihan air di
daerah Belanda Utara (Noord-Holland, red.). Di sini pengunjung bisa melihat
cara kerja kincir dalam mengalihkan air dan juga bisa melihat objek wisata lain
yaitu pembuatan keju, pembuatan sepatu kayu (klompen red) dengan tiket
masuk lokasi gratis.
Kincir Angin di Denmark
Denmark juga memiliki kincir yang banyak digunakan sebagai sumber tenaga
listrik yang hemat energi dan ramah lingkungan. Denmark sedang mencoba
mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin (PLTAngin) terbesar di dunia.
Negara itu membangun 80 turbin kincir dengan tinggi sekitar 110 meter di
20Km dari pantai Denmark yang dapat menghasilkan listrik sebesar 160 MW.
Dengan kipas sendiri berukuran panjang 30 meter.
Kincir Angin di Indonesia
Negeri kita tercinta ternyata juga memiliki kincir, kebanyakan merupakan
pembangkit listrik tenaga angin. Contohnya, Indonesia memiliki lima unit kincir
angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt ( kw yang sudah
dibangun.
Pada tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas yang sama menyusul dibangun
di empat lokasi, masing-masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua
unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka Belitung, masing-masing satu unit.
Selain itu, pemerintah juga telah membangun proyek energi listrik hibrid
terbesar di Indonesia. Tempatnya adalah di kawasan Pantai Pandansimo Baru,
Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Proyek ini dimungkinkan karena kecepatan angin laut dan angin darat di pantai
Pandansimo rata-rata 3-4 meter/detik dan intensitas sinar matahari yang besar
dan tetap. Proyek ini dipelopori Universitas Gadjah Mada (UGM) dan
Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek).
Energi listrik hibrid itu menggunakan sistem konversi energi angin dan sistem
energi matahari. Pada Pembangkit hibrid ini terdapat 40 kincir. Satu kincir
mampu menghasilkan listrik 1 kilowatt. Pembangunan energi listrik hibrid
menggunakan dana Rp 3 miliar dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi.
Ada juga dukungan dana oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan,
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Pemerintah Kabupaten
Bantul, UGM Yogyakarta, Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia. Total
dana yang dikucurkan mencapai Rp 5 miliar. Banyak manfaat yang bisa
dihasilkan dari proyek hibrid ini.
Energi listrik hibrid yang dibangun di kampung nelayan Pantai Pandansimo itu
bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat setempat. Misalnya, untuk
memproduksi 1.000 kilogram es balok per hari serta untuk memompa air
sumur yang dipergunakan untuk kebutuhan petani di pesisir pantai, terutama
pada musim kemarau. Selain itu, energi listrik yang dihasilkan juga bisa untuk
penerangan jalan umum.
Selain itu, kincir juga di pasang di jembatan penyebrangan Surabaya- Madura
(Suramadu). Sebelumnya penerangan di Suramadu sangat minim akibat
tingginya beban biaya yang harus dibayarkan oleh pengelola ke PLN.
Akibatnya, kawasan di sekitarnya hingga Bangkalan cenderung gelap pada
malam hari. Hal ini tentu membahayakan bagi para pelintas yang akan menuju
ke Surabaya maupun sebaliknya.
Oleh karena itu, badan pengelola jembatan Suramadu kemudian mengeluarkan
izin pengembangan wind power dan pembangkit tenaga surya, yang
ditenderkan untuk investor untuk menggantikan listrik PLN. Dengan kekuatan
itu, rata-rata setiap titik lampu/tiang membutuhkan daya 500 watt.
Sebanyak 300 watt dari energi angin, sementara 200 watt energi surya. Studi
kelayakan untuk proyek itu memakan waktu sekitar dua bulan. Dengan adanya
kincir ini, penerangan di jembatan Suramadu bisa lebih optimal sehingga bisa
lebih aman dan nyaman bagi para pengendara yang melintas di sana.
Sejarah kincir memang panjang, meliputi berbagai belahan dunia mulai dari
Persia, Eropa, Hingga Indonesia. Benda ini telah ikut mewarnai perkembangan
dunia ini sejak awal-awal abad masehi hingga jaman modern ini, dengan segala
manfaat melimpah yang bisa dihasilkannya, termasuk di bidang pengairan,
pertanian, teknologi, dan lain-lain.
Mengingat begitu banyak manfaat yang telah diberikan kincir angin untuk umat
manusia, tentunya kita berharap mudah-mudahan benda ini tetap eksis dan
bisa terus dikembangkan lagi. Sehingga anak cucu bangsa-bangsa di dunia
mengetahui keunikan, kehebatan dan keindahan dari kincir
sumber
No comments:
Post a Comment