Tuesday, June 12, 2012

Alat-Alat Musik Tradisional Sunda

Alat-alat musik tradisional Sunda adalah alat musik yang paling populer di
antara alat musik tradisional lainnya. Di mana alat-alat musik ini sering
digunakan untuk menghasilkan musik kotemporer. Selain masih dijaga
keberadaannya, alat-alat musik ini juga termasuk sangat mudah jika
dikombinasikan dengan berbagai alat musik modern.
Di Jawa Barat sendiri, para anak mudanya mendirikan perkumpulan sebagai
pelesatarian budaya Sunda. Mereka bangga terhadap alat musik tradisional ini.
Sering terdapat acara yang diselenggarakan dengan menampilkan permainan
musik dengan menggunakan alat musik tradisional, baik secara kontemporer
maupun tradisional.
Berikut ini adalah alat-alat musik tradisional Sunda yang sering dipergunakan
dalam berbagai acara musik oleh para anak muda di daerah Jawa Barat.
Alat-Alat Musik Tradisional - Angklung
Seperti halnya alat musik tradisional pada umumnya, angklung merupakan alat
musik tradisional yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya adalah
menggoyang-goyangkannya sehingga terjadi benturan dari badan pipa bambu
yang akan menghasilkan getaran menjadi bunyi yang harmoni.
Alat musik bambu ini biasanya dibuat dari bambu putih (awi temen) dan bambu
hitam (awi wulung) yang dibentuk menjadi tabung-tabung sebagai ruas yang
beragam jenis, mulai yang terkecil hingga terbesar.
Dalam sejarahnya, konon Angklung dimainkan masyarakat di Jawa Barat
dalam ritual untuk menarik perhatian Dewi Padi (Sri Pohaci) agar turun ke Bumi
dan menyuburkan tanaman padi di sawah.Ritual ini pada akhirnya melahirkan
musik dan lagu yang khas.
Selain menjadi ritual untuk penghormatan terhadap Dewi Padi, lagu yang
dihasilkan juga menjadi penolak bala dan bencana (ritual nyinglar) agar sawah
mereka terhindar dari bencana dan hama. Pada saat ini angklung telah dikenal
tidak hanya hingga ke luar pulau Jawa, tapi juga ke negeri luar.
Alat-Alat Musik Tradisional - Calung
Dapat dikatakan bahwa alat musik ini sangat mirip dengan angklung. Bedanya,
jika memainkan angklung caranya adalah menggoyang-goyangkannya, maka
calung harus ditabuh. Caranya adalah dengan memukul batangnya yang terdiri
atas ruas-ruas, serta memiliki susunan berdasarkan titi laras (tangga nada)
pentatonik (da-mi-na-ti-la). Untuk membuat calung, biasanya digunakan bambu
hitam (awi wulung) atau bambu putih (awi temen).
Dalam belantika musik tradisional Sunda, terdapat dua jenis bentuk calung
Sunda, yaitu calung jinjing dan calung rantay. Calung jinjing memiliki deretan
bambu bernada yang disatukan memakai sebilah kecil bambu (paniir). Calung
jinjing memiliki lima atau empat buah anak calung.
Di mana calung kingking yang terdiri atas 12 tabung bambu, calung panepas
yang terdiri atas 5, 3, dan 2 tabung bambu, calung jongjrong terdiri atas 5, 3,
dan 2 tabung bambu, serta calung gonggong yang terdiri atas 2 tabung bambu.
Dewasa ini, calung jinjing dibuat sedikit berbeda. Ada calung yang hanya
menggunakan satu buah calung kingking, dua buah calung panempas, serta
satu buah calung gonggong, dan tanpa adanya calung jongjrong. Untuk
memainkannya, calung harus dipukul mengunakan pemukul yang dipegang
dengan tangan kanan. Di mana tangan kiri menjinjing atau memegang alat
musik tersebut.
Calung rantay memiliki bilah tabung yang dideretkan dengan tali kulit waru
berjumlah 7 ruas bambu. Mulai dari ukuran terbesar hingga terkecil. Untuk
memainkannya adalah dengan memukulnya menggunakan 2 pemukul yang
dipegang oleh kedua tangan sambil duduk bersila.
Alat-Alat Musik Tradisional - Karinding
Alat musik tradisional ini telah ada dalam kehidupan masyarakat Sunda sejak
abad ke-15. Berbeda dengan alat musik tradisional Sunda lainnya, alat musik
ini sangat kecil, dengan ukuran 10 X 2 cm dan terbuat dari bambu atau pelepah
pohon Enau (kawung).
Berbeda dengan alat musik tradisional lainnya, yang digunakan sebagai ritual,
pada zaman dahulu, alat musik ini digunakan untuk menarik perhatian lawan
jenis. Untuk memainkannya tidak hanya dibutuhkan keahlian khusus, tapi juga
harus menggunakan kepekaan rasa dari dalam hati. Suara yang dihasilkan juga
sangat unik, mirip seperti bunyi serangga.
Cara memainkannya juga sangat unik, yaitu dengan mendekatkannya ke mulut
dan gunakan jari untuk memukul salah satu ujungnya. Nada yang dihasilkan
juga berbada-beda, tergantung pada bentuk rongga mulut peniupnya.
Alat-Alat Musik Tradisional - Kacapi
Kacapi merupakan alat musik tradisional yang menghasilkan nada untuk musik
klasik. Proses pembuatannya tidaklah mudah. Bahan bakunya berasal dari
kayu kenanga yang sebelum dibuat menjadi kecapi harus harus direndam
terlebih dahulu selama tiga bulan. Senarnya terbuat dari kawat suasa yang
merupakan logam campuran tembaga dan emas. Akan tetapi, karena harganya
sangat mahal, maka saat ini senar kecapi hanya dibuat dari kawat baja.
Kacapi Sunda hanya mempunyai 5 tangga nada pentatonis yang terdiri atas
Da, Mi, Na, Ti, La. Biasanya alat musik ini dimainkan bersama suling Sunda.
Di mana alat-alat musik tradisional tersebut jika disatukan dapat menghasilkan
harmonisasi nada yang sangat memesona dan membuat kita teringat akan
kampung yang sunyi dan permai.
Kacapi Sunda terdiri atas berbagai jenis, yaitu sebagai berikut.
1. Kacapi Parahu. Kacapi ini berbentuk kotak resonansi. Di mana pada
bagian bawahnya terdapat lubang resonansi yang berfungsi sebagai
tempat keluarnya suara. Sisi-sisinya berbentuk menyerupai perahu.
Pada zaman dahulu, pembuatan kacapi ini langsung dipahat dari
bongkahan kayu.
2. Kacapi Siter. Kacapi ini berbentuk kotak resonansi yang memiliki bidang
rata dan sejajar. Tidak berbeda dengan kacapi parahu, kacapi ini juga
memiliki lubang pada bagian bawahnya. Akan tetapi, bagian sisi bawah
dan atasnya berbentuk trapesium.
Pada kedua kacapi tersebut, tiap dawainya diikat pada suatu sekrup kecil yang
berada di sisi kanan atas kotak. Di mana mereka dapat ditala dengan berbagai
sistem, seperti pelog, sorog/madenda, atau salendro.
Berbeda dengan kacapi saat ini, yang pembuatannya dengan cara melekatkan
sisi-sisi enam bidang kayu menggunakan bidang kayu. Berdasarkan fungsinya,
dalam mengiringi musik, kacapi dimainkan sebagai kacapi indung dan kacapi
anak (kacapi rincik).
Kacapi indung yang digunakan biasanya merupakan kacapi besar yang
memiliki 18 atau 20 dawai. Fungsinya adalah sebagai pemimpin musik
yang akan menjadi penentu tempo serta memberikan intro, bridges, dan
interlude.
Kacapi rincik atau kacapi anak yang digunakan biasanya memiliki
ukuran yang lebih kecil, dengan jumlah dawai mencapai 15. Fungsinya
adalah untuk mengisi ruang antarnada dengan frekuensi-frekuensi tinggi,
sehingga dapat memperkaya iringan musik.
Alat musik tradisional sudah seharusnya dilestarikan karena merupakan salah
satu kekayaan bangsa kita yang membuat Indonesia dikenal akan keindahan
seninya, terutama pada seni musik. Alat-alat musik tradisional seolah
membuktikan, bagaimana keindahan alam dapat menghasilkan harmonisasi
nada dan lagu yang indah. Hal itu juga yang membangun kebudayaan bangsa
kita.
Masyarakat Bandung, terutama anak-anak mudanya melakukan pelestarian
alat-alat musik tradisional Sunda sebagai bentuk rasa cinta dan bangganya
terhadap tataran Sunda, walaupun tidak dipungkiri bahwa mereka juga
mempelajari alat musik modern. Akan tetapi, hal itu tidak lantas membuat
mereka merasa alat musik tradisional Suda adalah alat musik yang ketinggalan
zaman.
Banyak sekali musisi muda yang kemudian dengan kreativitasnya, berusaha
untuk menyatukan berbagai nada dan melodi yang dihasilkan alat musik
tradisional Sunda dan modern untuk menghasilkan nada baru yang lebih bagus.
Di mana kemudian muncullah aliran musik kontemporer yang saat ini sangat
disukai oleh musisi di Bandung.
sumber

No comments:

Post a Comment